Beranda HL Tempat Ibadah Dibuka, Pengurus Ditugasi Pastikan Protokol Covid-19 Dijalani

Tempat Ibadah Dibuka, Pengurus Ditugasi Pastikan Protokol Covid-19 Dijalani

333
0
BERBAGI
Bupati OKI H. Iskandar, SE saat melaksanakan sholat berjemaah di Masjid Agung Sholihin Kayuagung.

Kayuagung, Beritakajang.com – Sejumlah masjid dan tempat ibadah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai dibuka. Melalui sesuai Surat Edaran (SE) Nomor : 624/II/2020 tertanggal 3 Juni 2020, Bupati OKI H. Iskandar, SE meminta pengurus atau penanggung jawab rumah ibadah untuk memastikan penerapan protokol kesehatan selama peribadatan.

Rumah ibadah diwajibkan menyediakan alat pengecekan suhu tubuh, memberi pembatas jarak antar jemaah, menyediakan sabun cuci tangan, membatasi pintu / jalur keluar masuk, serta rutin melaksanakan disinfeksi.

Bagi jemaah yang akan melaksanakan kegiatan ibadah diwajibkan menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker sejak dari rumah, membawa sejadah dari rumah, rutin cuci tangan, menjaga jarak serta dilarang berkerumun dalam jumlah besar. Khusus bagi anak-anak, orang tua dan mereka yang memiliki penyakit bawaan dan rentan tertular Covid-19 tidak diperkenankan memasuki masjid.

Melalui surat itu, bupati menegaskan penyelenggaraan kegiatan keagamaan di rumah ibadah dilihat dari kondisi nyata lingkungan rumah ibadah terhadap Covid-19. Meski daerah dinyatakan dalam zona kuning, namun jika ada kasus terkonfirmasi positif di lingkungan tempat ibadah itu maka penyelenggaraan kegiatan keagamaan belum diperbolehkan.

Sementara bagi tempat ibadah yang di lingkungannya terdapat kasus positif, pengurus dapat mengajukan keberatan kepada Gugus Tugas Kabupaten OKI jika ingin melakukan peribadatan secara  berjamaah.

Sejumlah tempat ibadah di OKI mulai kegiatan peribadatan.

Melalui surat tersebut, Iskandar juga mengimbau fungsi sosial masjid dan rumah ibadah lainnya yang mengakibatkan berkumpulnya orang banyak seperti pernikahan atau pengajian, agar tetap mengikuti protokol kesehatan dengan pembatasan jumlah peserta maksimal 20 persen dari kapasitas ruangan dan tidak boleh lebih dari 30 orang.

Sementara untuk kegiatan sosial keagamaan lainnya seperti tabligh akbar, pengajian rutin,
di rumah ibadah maupun pertemuan sosial budaya, ditempat umum maupun lingkungan pribadi belum diperbolehkan. (Ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here