MURATARA, Beritakajang.com – Ditengah politik yang makin riuh oleh klaim dan pencitraan, ada satu indikator yang tidak bisa dipoles yaitu harga kebutuhan pokok. Hal ini lah membuat Bupati Kabupaten Muratara, H. Devi Suhartoni (HDS) membuat suatu analisis bagi masyarakat mampu untuk bergabung dipartai politik dalam daerah.
HDS menjelaskan harga kebutuhan pokok tidak tunduk pada baliho, serta tidak bisa diatur oleh narasi konten medsos, dan tidak bisa dimanipulasi di dapur rakyat.
“Ketika harga beras stabil, cabai tidak melonjak liar, dan kebutuhan dasar tetap terjangkau, di situlah ukuran paling jujur dari kerja pemerintah daerah terlihat, bukan di panggung, melainkan di kehidupan sehari-hari,” ungkap Bupati Muratara, HDS, Minggu (26/4/2026).
Dijelaskan HDS, pengendalian inflasi, dalam hal ini adalah ujian yang sederhana sekaligus Ia memperlihatkan dengan gamblang siapa yang bekerja, dan siapa yang sekadar terlihat bekerja.
Karena itu, ketika Kementerian Dalam Negeri melalui Apresiasi Pemerintah Daerah 2026 menggunakan indikator ini sebagai tolak ukur, sesungguhnya yang sedang ditampilkan bukan sekadar peringkat, melainkan peta kinerja yang sulit dibantah.
“Dalam penilaian tingkat regional Se-Sumatera, Kabupaten Muratara, Provinsi Sumsel muncul sebagai terbaik II dalam pengendalian inflasi untuk kategori Kabupaten,” ujar ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Sumsel.
Artinya, sederhana tetapi tidak ringan. Wilayah ini menjadi kabupaten dengan kinerja pengendalian inflasi terbaik di Sumatera Selatan, dalam penilaian regional yang sama, capaian ini bukan sekadar angka, melainkan fakta yang berdiri sendiri.
Selanjutnya, antara mengelola kekuasaan dan mengelola kehidupan.
Di titik ini, perbedaan mulai terlihat.
Ada yang sibuk mengelola persepsi, ada yang diam-diam mengelola realitas.
Yang pertama terlihat.
Yang kedua terasa.
Dalam politik yang sehat, yang terasa selalu lebih bertahan daripada yang sekadar terlihat.
Pengendalian inflasi adalah contoh paling sederhana dari itu. Ia tidak membutuhkan penjelasan panjang, karena masyarakat sudah merasakannya sebelum sempat diberitahu.
Ideologi yang Turun ke Dapur
Sering kali ideologi berhenti sebagai slogan. Diucapkan, diulang, tetapi jarang diuji dalam hal yang paling mendasar.
Padahal, jika ideologi benar-benar berpihak, ia seharusnya hadir di tempat yang paling nyata:
di pasar, di warung, dan di dapur.
Menjaga harga tetap stabil bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ia adalah tindakan politik yang paling konkret. Karena di situlah keberpihakan diuji, bukan dalam pidato, tetapi dalam kemampuan menjaga kehidupan tetap layak.
Capaian ini tentu bukan hasil satu orang. Ia lahir dari kerja sistem: koordinasi, distribusi, dan respons yang berjalan.
Namun justru di situlah letak persoalannya bagi banyak daerah.
Tidak semua mampu membangun sistem.
Sebagian hanya mampu membangun momentum.
Momentum bisa diciptakan, sementara sistem harus dibangun. Dan perbedaannya terlihat ketika situasi tidak lagi ideal.
Capaian ini layak diapresiasi, tetapi tidak untuk dirayakan berlebihan. Karena stabilitas adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan diumumkan.
Tanpa konsistensi, apa yang hari ini tercatat sebagai prestasi bisa dengan cepat berubah menjadi catatan biasa.
Dinamika harga, gangguan distribusi, dan tekanan ekonomi akan terus datang tanpa pemberitahuan. Dan pada saat itu, yang diuji bukan klaim masa lalu, melainkan kesiapan hari ini.
Pada akhirnya, politik tidak diukur dari seberapa sering ia berbicara, tetapi dari seberapa jauh ia bekerja.
Di tengah banyaknya suara, yang benar-benar berarti justru sering datang dari yang tidak banyak bicara.
Karena bagi masyarakat, ukuran itu selalu sederhana: harga terkendali, hidup berjalan.
Dan di situlah, tanpa perlu banyak kata,
pemerintahan yang bekerja akan dikenali dengan sendirinya. (Hkm)






























