Merefleksi Tiga Pelajaran Penting Bencana Alam

Oleh: Sarjono, S.I.Kom (Warga Lombok Utara)

Beritakajang.com – Dalam kehidupan sehari-hari kita kerap kali mendengar atau bahkan merasakan musibah lantaran kita mengalaminya. Musibah biasanya dilawankan dengan anugerah.

Dalam KBBI, musibah diartikan sebagai kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa. Musibah bisa juga berarti malapetaka atau bencana. Sedangkan anugerah berarti pemberian dari sang khalik berupa kesenangan (hal-hal yang nikmat). Secara universal, kira-kira bisa ditarik benang merah bahwa musibah berkenaan dengan hal-hal yang menyedihkan, sedangkan anugerah berkaitan dengan hal-hal yang menyenangkan.

Di satu sisi, banyak orang kemudian memaknai bencana alam hampir selalu sebagai suatu musibah. Wajar memang lantaran diiringi peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, misalnya kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal, mengalami luka-luka, hingga kehidupan mendadak berubah menjadi serba-sulit, kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, sanitasi yang layak, dan lain sebagainya.

Sementara di sisi lain, sejatinya sifat bencana alam itu relatif: bisa bermakna musibah, bisa juga justru anugerah dari (Allah, Tuhan). Sangat tergantung cara kita dalam menyikapi bencana tersebut. Karena sifatnya yang relatif, bencana alam bagi setiap orang memiliki sudut pandang berbeda-beda, bisa jadi musibah bagi satu orang, namun anugerah bagi orang lainnya-tergantung cara seseorang merespons peristiwa itu. Dengan diksi lain, bencana adalah kiriman yang mengandung pelajaran, bukan hanya bagi yang tertimpa bencana tetapi juga yang tidak terkena bencana. Sekali lagi, pelajaran itu berlaku untuk semua orang, entah mengalami bencana ataupun yang tidak mengalaminya.

Lantas menyeruak pertanyaan kapan bencana alam itu menjadi musibah dan kapan pula menjadi anugerah?. Jawabannya sangat tergantung seberapa jauh pelajaran dari bencana alam itu terserap atau tercerna dan berpengaruh positif pada diri kita, baik yang tertimpa bencana itu atau yang hanya sekadar menyaksikannya.

Setidaknya ada tiga pelajaran penting dalam peristiwa bencana alam gempa bumi 2018. Pertama, introspeksi diri. Kita dianjurkan untuk selalu mengevaluasi diri sendiri. Apa saja kekurangan dan kesalahan yang perlu kita benahi.

Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus adalah fenomena yang tidak bisa dikendalikan manusia. Ini bukti kelemahan manusia, dan seyogianya bencana alam menyadarkan kita untuk kian merendah serendah-rendahnya di hadapan Tuhan pemilik jagat raya ini. Bilamana bencana itu disadari akibat kesalahan manusia, maka seharusnya bencana alam berdampak pada perubahan sikap kita menjadi lebih baik. Pelajaran ini penting dilakukan baik oleh korban maupun bukan korban.

Kenyataan sehari-hari kita justru lebih gemar mengevaluasi orang lain ketimbang melakukan evaluasi pada diri sendiri. Bagi korban, bencana adalah fase penting memeriksa dosa-dosa sendiri, tingkat penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pergaulan sosial, dan sikap terhadap lingkungan alam. Bagi mereka yang bukan korban dan di luar lokasi bencana, bencana sebetulnya merupakan peringatan bagi diri sendiri untuk kian menjaga perilaku dan sifatnya baik kepada sang khalik, sesama manusia, dan juga alam sekitar.

Sangat disesalkan bila ada orang yang kebetulan tidak menjadi korban menuding bahwa bencana alam yang menimpa saudara-saudaranya di lokasi tertentu merupakan azab atas dosa-dosanya. Apalagi jika tuduhan itu dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu. Sikap yang demikian tidak hanya bertentangan dengan prinsip evaluasi diri sendiri, bukan orang lain, tapi juga dapat mendorong mudarat baru karena bisa menyinggung perasaan para korban dan menunjukkan apriori empati kepada korban.

Kedua, rasa syukur dan optimisme. Bersyukur bagi para korban adalah ridha atas bencana yang menimpanya sembari menilai penderitaan saat ini adalah cara Tuhan melebur dosa-dosa kita sekaligus menaikkan kualitas kepribadian kita. Laksana ujian akhir semester bagi siswa untuk naik ke semester berikutnya. Dalam konteks ini, bencana merupakan ujian bagi para korban untuk dapat mendaki pada derajat yang lebih mulia.

Kita juga perlu membangun optimisme agar tidak larut secara terus-menerus dalam kesedihan, banyak mengeluh, apalagi sampai putus asa. Dalam penderitaan, kita mestinya berprasangka baik bahwa ada maksud khusus dari pemilik semesta ini guna meningkatkan mutu diri hamba-Nya, baik dalam ibadah (menghamba) maupun hubungan sosial.

Bagi mereka yang tidak terdampak bencana, syukur dalam konteks ini mengacu pada nikmat keamanan diri, sehingga tidak hanya bisa merenung atas peristiwa yang disaksikannya tapi juga bisa beribadah dalam situasi yang lebih nyaman dibanding saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. Mereka harus belajar dari kesalahan-kesalahan dan mesti optimis menatap perjalanan ke depan.

Ketiga, amal ibadah pasca bencana. Jika bencana adalah ujian kenaikan derajat, maka kenaikan tersebut hanya terjadi bila yang bersangkutan benar-benar lulus dari ujian. Bencana alam merupakan wasilah bagi para korban bencana, isinya menuntut manusia untuk sabar, ikhtiar, tawakal, dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan maha pencipta. Kualitas kepribadian diri kita sebagai hamba meningkat manakala “materi ujian” dapat kita lalui dengan baik dan benar.

Sementara, bagi mereka yang tidak menjadi korban, bencana alam adalah ujian untuk menunjukkan kepedulian kemanusiaan atas mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Pertolongan berupa tenaga, pikiran, dana, harta benda, makanan, doa, dan lain sebagainya penting disalurkan.

Syukur atas keselamatan diri kita dari bencana bisa ditunjukkan dengan kesediaan berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Bisa dengan menjadi relawan, donatur bantuan, atau keterlibatan lainnya yang dapat meringankan beban para korban. Kita seyogianya mencerna hikmah di balik bencana gempa bumi 2018. Semoga bencana alam yang merupakan bagian dari fenomena alamiah tak menimbulkan bencana baru dalam kehidupan kita. Semoga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *