Mengoridori Kebersamaan

Oleh: Sarjono, SIKom (Mantan Wasekjen PMII Cabang Yogyakarta)

Beritakajang.com – Beranjak dari fenomena empirik, torehan ini mengorelasikan antara pergumulan dinamika pembangunan pasca gempa dengan koridor kebersamaan di antara pelaku pembangunan di Lombok Utara.

Dalam tambo sejarah, manusia sebagai makhluk sosial memerlukan orang lain. Semakin banyak dan sering interaksi seseorang dengan orang lain akan dapat memupuk nilai-nilai kebersamaan.

Kebersamaan adalah hal yang penting dalam suatu organisasi lantaran menjadi koridor arah untuk dapat melewati suatu rintangan yang sulit dengan mudah.

Dalam konteks situasi dan dinamika interaksi bersama belum tentu ada rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan dapat muncul diawali dari keadaan bersama. Rasa kebersamaan ini akan muncul ketika kita bersama-sama dalam suatu kondisi, dalam kegiatan yang sama, dan juga menanggung beban yang sama. Tentu pula dalam periodisasi tertentu, rasa kebersamaan ini dapat disudahi, bila saat keadaan sudah menuntut kita untuk tidak bersama.

Suasana kebersamaan juga tidak bisa dipaksakan lantaran terbentuk atas kesadaran dalam diri masing-masing, mesti didahului dengan memahami, mendengarkan, dan berbagi antarse sama anggota dalam organisasi, tanpanya mustahil membentuk rasa kebersamaan. Kebersamaan tidak hanya dicapai dalam sebuah aktivitas saja tetapi hanya bisa dicapai dari psikologis setiap individu.

Harus dipahami dalam diri individu pasti terdapat perbedaan sifat atau psikologis, juga perbedaan yang lainnya, sehingga kita perlu mengerti secara saksama mengenai perbedaan tersebut. Perbedaan bukan berarti perpecahan, tapi perbedaan itu bisa membentuk suasana kebersamaan jika rasa saling pengertian dan memahami diantara individu telah terpahat dan terbenaki. Kebersamaan menjadi koridor penting bagi seseorang agar bisa meraih tujuan tertentu yang mungkin tidak bisa dicapai sendiri. Dengan rasa kebersamaan yang terbenaki di dalam benak kita bisa tumbuh bersama untuk menjadi yang lebih baik.

Demikian juga ruang-ruang pembangunan sebetulnya bukanlah sekat pemisah diantara aktor pembangunan melainkan konsekuensi logis dari tupoksi kiprah bakti sebagai abdi negara. Kerjasama yang guyub dan juga komunal dalam kerja bersama menggambarkan eloknya sebuah kebersamaan. Betapa tidak, kerja bersama haruslah menjadi pendekatan merangkul dan sekaligus memperlihatkan asas kebersamaan serta gotong-royong membangun daerah pasca gempa bumi setahun silam, utamanya pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi saat ini. Sebaliknya, bersama kerja menunjukkan keselarasan irama tindakan bekerja bersama-sama membangun daerah agar bisa mencapai target yang direncanakan.

Apapun itu, betapa sebuah kebersamaan sangatlah penting dalam membangun dengan menata kelola kembali untaian pembangunan daerah, mengingatkan saya pada pidato pemimpin daerah dalam berbagai ruang dan kesempatan formal maupun informal.

“Kunci keberhasilan membangun kembali daerah ini pasca musibah gempa bumi 2018 memerlukan sinergi bersama semua pihak, tidak bisa membiarkan pemerintah berjalan sendiri. Perlu peran aktif semua pihak dengan mendorong dan mengawal pembangunan di Kabupaten Lombok Utara. Dengan semangat bangkit bersinergi, mari kita mengoridori kebersamaan untuk menata kelola aspek pembangunan daerah ini.”

Dalam konteks ini, bangkit membangun dengan kebersamaan sebagaimana yang kerap disampaikan Bupati Lombok Utara dalam berbagai kesempatan semacam ingin menegaskan kepada kita tentang betapa urgen dan indahnya nilai sebuah kebersamaan. Kebersamaan karenanya dapat dikatakan sebagai persatuan atau bersatu. Bahkan simbolisasi persatuan secara nasional yang telah diterima sebagai sebuah semboyan bangsa adalah Bhinneka Tunggal Ika. Tidak dapat dibayangkan, bilamana semboyan itu dilalaikan dan diabaikan, maka kemerdekaan rasanya sulit untuk dapat kita raih.

Saya menduga mungkin atas dasar ini pula, seorang filsuf terkemuka Indonesia Prof. Dr. N. Driyarka berpandangan, “menurut strukturnya ada kita, baru ada bersama. Manusia tidak hanya meng-Aku, dia juga meng-Kita. Aku selalu memuat engkau serta hanya dengan dan dalam pertemuan dengn engkaulah, aku menjadi aku”.

Ungkapan filsuf Driyarka itu semacam penegasan, bahwa secara eksistensial manusia mesti membangun kebersamaan dalam hidup, bahkan yang dinamakan jati diri akan semakin tampak dalam sebuah kebersamaan. Singkatnya, kebersamaan dalam hidup sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat fundamental dan bersifat esensial.

Pertanyaannya kemudian mengapa nilai kebersamaan itu begitu penting ?

Pertama, dalam konteks pembangunan, dengan kebersamaan dapat lahir dan tercipta harmonisasi dan komunikasi pada seluruh pemangku kepentingan dalam mengakselerasi pelaksanaan pembangunan di segala bidang.

Kedua, dengan kebersamaan, dapat menyatukan persepsi-perspektif dan arah pandang, sejatinya modal dasar dalam mewujudkan visi-misi pembangunan yang telah dicanangkan.

Ketiga, dengan kebersamaan, berpotensi dalam mewujudkan unity integrity untuk stabilitas yang dinamis, yaitu suatu kondisi masyarakat yang tenang tapi bersemangat penuh dinamika sehingga dapat menjalankan fungsi-fungsi yang di milikinya dengan baik, sesuai dengan kedudukan dan kapasitas masing-masing. Lantaran setiap orang dalam kedudukan dan kapasitas masing-masing sesungguhnya sudah memiliki gelora membangun di dalam sanubarinya.

Keempat, dengan kebersamaan, dapat tercipta iklim yang kondusif untuk keterbukaan. Kebersamaan akan membuka ruang bagi tumbuh dan berkembangnya iklim keterbukaan yang sejatinya merupakan salah satu pilar penting dalam demokrasi: menyampaikan ide, gagasan, tukar pikiran dan olah pikir, termasuk dalam bentuk kritik konstruktif dalam pelaksanaan pembangunan.

Kelima, sharing and caring. Hanya dalam situasi dan kondisi yang berdasarkan nilai-nilai kebersamaanlah, sikap kritis, langkah inovatif dan kreatif bagi progresifitas pelaksanaan pembangunan berkeadilan dapat tercipta.

Tidak pelak lagi, hanya melalui semangat kebersamaan setiap proses pelaksanaan pembangunan akan selalu diletakkan dan diorientasikan semata-mata untuk kepentingan bersama, karena nilai-nilai kebersamaan yang terwujud merupakan kebutuhan bersama akan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan.

Dus, sudah saatnya kita berbagi satu sama lain, saling menghargai dan mensyukuri potensi yang dimiliki, menghentikan penyakit jiwa, intersinisme, pragmatisme, isu-isu destruktif, maupun obrolan-obrolan di media sosial yang terkadang tanpa kita sadari telah menelanjangi kekerdilan cara berfikir kita.

Menyadari bersama kunci keberhasilan pembangunan dengan tidak membiarkan pemerintah berjalan sendiri. Memerlukan peran aktif semua pihak untuk mengawal pembangunan pasca gempa dengan semangat kebersamaan. Membangun dengan rasa kebersamaan menjadi modal sosial, dan resources yang tampil sebagai energi konatif mendorong dinamisasi dan akselerasi pelaksanaan pembangunan di Bumi Tioq Tata Tunaq.

Kata kuncinya adalah kebersamaan. Kolaborasi secara objektif dan konstruktif dalam mendorong dan mendukung akselerasi pembangunan dengan mengoridori kebersamaan, agar Bumi Adi Mirah Paer Daya menjadi negeri gemilang dan terbilang, bukan untuk siapa-siapa, tetapi dari, oleh dan untuk kita semuanya. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *