Jejak Langkah Komisioner BPK RI Asal Palembang

Palembang, Beritakajang.com-Sosok Hendra Susanto, Pria kelahiran Lahat 47 tahun silam atau tepatnya 14 September 1972 ini memang kurang akrab di telinga kita, namun siapa sangka, lelaki paruh baya ini adalah satu-satunya anggota Komisioner Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) periode 2019-2024 asal Kota Palembang, Sumatera Selatan yang terpilih berdasarkan voting yang dilakukan diruang rapat Komisi XI, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2019) lalu, oleh 56 anggota Komisi XI yang terdiri dari 10 Fraksi, dan diumumkan, Kamis (26/9/2019).

Hendra Susanto yang akrab disapa Hendra memang sejak awal berkarier di BPK RI yang notabenenya adalah lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

Untuk diketahui, menurut Undang-Undang Dasar 1945, BPK adalah merupakan lembaga yang bebas dan mandiri.

Anak ke lima dari enam bersaudara pasangan Almarhum H M. Malian dan Hj Masnah ini merupakan pejabat karier di BPK.

Posisi terakhirnya di BPK adalah sebagai Kepala Auditorat I.B di Auditorat Utama Keuangan Negara I.

Namun sebelumnya, Hendra pernah bertugas sebagai Pemeriksa Madya, pada Sub Auditoriat I.B.1, kemudian ia juga pernah menduduki posisi sebagai Auditorat Utama Keuangan Negara I.

Lalu, sebelum dirinya ditarik ke pusat, Hendra juga pernah ditugaskan di Kantor BPK Perwakilan Provinsi Banten.

Di situ, Hendra menempati posisi sebagai Pemeriksa Madya atau Tim Ketua Senior, pada Sub Auditorat Banten.

Pada tahun 2012, Hendra juga pernah bertugas di kantor BPK Perwakilan Jambi.

Di sana dirinya menduduki jabatan sebagai Pemeriksa Muda pada Sub Auditorat Jambi II.

Di tahun 2017 lalu, Hendra juga pernah mengikuti seleksi anggota BPK.

Saat itu seleksi dilakukan untuk memilih 2 anggota BPK periode 2017-2022, dan dia sempat masuk daftar 13 nama yang direkomendasikan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Namun Tuhan berkehendak lain, saat itu Hendra dinyatakan tidak lolos seleksi uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dilaksanakan di DPR RI.

Menurut data yang diperoleh dari situs e-LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara), di tahun 2018, Hendra pernah melaporkan nilai harta kekayaannya yang mencapai Rp5,2 miliar.

Sementara di dua tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 2016, Hendra juga pernah melaporkan harta kekayaannya yang mencapai total Rp1,9 miliar dimana saat itu dirinya masih menjabat sebagai Pemeriksa Madya di Sub Auditoriat I.B.1.

Selama kariernya, Hendra tidak memiliki catatan hitam.

Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 52 (SDN 52) Palembang dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 31 (SMPN 31) Palembang ini dikenal sangat ramah dan religius.

Di saat memasuki usia remaja, Hendra melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang Sekolah Menengah Atas dengan mendaftar sebagai siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 9 (SMAN 9) Palembang.

Kemudian, usai dirinya dinyatakan lulus dan mendapatkan nilai yang cukup baik, Hendra pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dengan mendaftar sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sriwijaya (UNSRI) Strata 1 (S1) Teknik Sipil.

Pasca wisuda dan menyandang gelar Sarjana Teknik (ST) di Universitas UNSRI Palembang, rupanya Hendra tidak mau berhenti disitu, dengan semangat yang luar biasa dan tak kenal lelah, Hendra pun melanjutkan pendidikannya dengan mengikuti program Pasca Sarjana di UNESCO-International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering (IHE) di Delft, Belanda.

Diketahui, UNESCO-IHE Institute for Water Education adalah sebuah lembaga internasional untuk pendidikan sektor air yang dibentuk pada tahun 2003, yang sebelumnya adalah IHE. Lembaga ini merupakan pengembangan dari International Course in Hydraulic Engineering (dibentuk pada tahun 1957), kemudian berganti nama pada tahun 1976 menjadi International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering (IHE).

Usai memperoleh gelar S2 nya, Hendra kemudian melanjutkan program Doktor (S3) nya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat.

Meskipun banyak keberhasilan yang diraihnya selama ini, mulai dari gelar Akademis hingga berhasil terpilih sebagai salah satu anggota Komisioner BPK RI, tidak lantas membuat Hendra menjadi jumawah. Ia tetaplah menjadi Hendra yang dulu, yang dikenal di lingkungan keluarganya sebagai sosok yang ramah, santun, berwibawa dan religius. (Ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *