Pengelolaan Sampah Terpadu

Lombok Utara, Beritakajang.com – Dewasa ini masalah sampah telah menjadi fenomena sosial yang harus mendapat atensi dari semua pihak, lantaran setiap manusia pasti memproduksi sampah. Disisi lain, masyarakat tidak ingin berdekatan dengan sampah.

Sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu timbulnya berbagai dampak negatif terhadap lingkungan. Gangguan yang ditimbulkan meliputi bau, penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika lingkungan.

Dalam kehidupan sehari-hari apa yang dilakukan manusia pada dasarnya memanfaatkan sumber daya alam yang berasal dari lingkungan, dan mengembalikan hasil aktifitas tersebut dalam bentuk buangan (waste) kembali ke lingkungan.

Keseimbangan dampak positif pemanfaatan sumber daya alam dan dampak negatifnya bagi kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh penggunaan teknologi yang digunakan untuk mengeksplorasi sumber daya alam, mengolah buangannya, serta daya asimilasi atau daya dukung lingkungan.

Meningkatnya aktivitas manusia seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kemudian diikuti dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk berdampak semakin terasa terhadap lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan secara terus-menerus kemudian menyudutkan masyarakat pada permasalahan degradasi lingkungan.

Permasalahan lingkungan yang berkaitan erat dengan pelayanan publik adalah pengelolaan sampah. Volume sampah yang meningkat dengan laju pertumbuhan eksponensial akan menghadapkan pada permasalahan kebutuhan lahan pembuangan sampah, serta semakin tingginya biaya pengelolaan sampah dan biaya-biaya lingkungan lainnya.

Karena itu, budaya konsumerisme masyarakat saat ini mempunyai andil besar dalam peningkatan jenis dan kualitas sampah. Di era globalisasi para pelaku usaha dan pebisnis bersaing sekeras mungkin untuk  memasarkan produknya, mereka memiliki strategi bisnis dengan mengemas produknya dengan kemasan yang menarik konsumen. Bervariasinya kemasan produk tersebut berimplikasi pada peningkatan jenis dan kualitas sampah.

Secara umum pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir.

Adapun tahapan-tahapan proses kegiatan dalam pengelolaan sampah sebagai berikut. Pertama, tahap pengumpulan, pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya.

Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah, bak sampah, peti kemas sampah, gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS/Dipo). Untuk melakukan pengumpulan, umumnya melibatkan sejumlah tenaga yang mengumpulkan sampah setiap periode waktu tertentu.

Kedua, tahap pengangkutan, dilakukan dengan menggunakan sarana bantuan alat transportasi tertentu menuju ke tempat pembuangan akhir/pengolahan. Dalam tahapan ini juga melibatkan tenaga yang pada periode waktu tertentu mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir.

Ketiga, tahap pembuangan akhir/pengolahan. Sampah akan mengalami pemrosesan baik secara fisik, kimia maupun biologis sedemikian hingga tuntas penyelesaian seluruh proses.

Pengelolaan sampah, terutama di kawasan padat penduduk, saat ini dihadapkan pada berbagai problem yang cukup kompleks. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi tingginya laju timbulan sampah yang tinggi, kepedulian masyarakat (human behaviour) yang masih sangat rendah serta masalah kegiatan pembuangan akhir sampah (final disposal) yang selalu menimbulkan permasalahan tersendiri.

Sesuai dengan kodratnya, manusia diberikan kelebihan ilmu pengetahuan, dimana secara alami (instinctive) dapat muncul dengan sendirinya tergantung kepada kepekaan dalam menanggapi ataupun membaca fenomena alam dan kemudian menerjemahkan ke dalam dunia nyata sebagai tindakan nyata manusia.

Manusia dalam hidupnya selalu diuji kepekaannya dalam menanggapi tanda-tanda alam. Oleh karena itu, manusia perlu selalu meningkatkan kemampuan budaya, mulai dari budaya yang hanya sekedar untuk mempertahankan hidup hingga budaya untuk membuat rekayasa penciptaan lingkungan hidup yang nyaman, sejahtera, dan berkelanjutan.

Teknik Pengolahan Sampah

Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tak dipakai, tak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia, termasuk kegiatan industri, tetapi bukan biologis lantaran human waste tidak termasuk di dalamnya dan umumnya bersifat padat. Sumber sampah bisa berbagai macam diantaranya dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan.

Berdasarkan komposisi kimianya, sampah terbagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Riset mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali.

Pengelolaan sampah dimaknai sebagai semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuangan akhir.

Pertama, penimbulan sampah (solid waste generated). Pada dasarnya sampah itu tidak diproduksi, tetapi ditimbulkan (solid waste is generated, not produced). Oleh karena itu, dalam menentukan metode penanganan yang tepat, penentuan besarnya timbulan sampah ditentukan oleh jumlah pelaku, jenis dan kegiatannya.

Idealnya, untuk mengetahui besarnya timbulan sampah yang terjadi, harus dilakukan dengan suatu studi khusus. Tetapi untuk keperluan praktis, telah ditetapkan suatu standar spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang.

Kedua, penanganan di tempat (on site handling). Penanganan sampah pada sumbernya merupakan semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan di tempat pembuangan.

Kegiatan ini bertolak dari kondisi di mana suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan, kerap kali masih memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah ditempat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selanjutnya. Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya, terdiri dari pemilahan (shorting), pemanfaatan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Tujuan utama kegiatan tahap ini untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce).

Ketiga, pengumpulan (collecting), yaitu kegiatan pengumpulan sampah dan sumbernya menuju ke lokasi TPS. Pada umumnya dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dan rumah-rumah menuju ke lokasi TPS. Keempat, pengangkutan (transfer and transport), yakni kegiatan pemindahan sampah dan TPS menuju lokasi pembuangan pengolahan sampah atau lokasi pembuangan akhir.

Kelima, pengolahan (treatment), bergantung dari jenis dan komposisinya, sampah dapat diolah. Berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan sampah, antara lain:

  1. Transformasi Fisik, meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan (compacting), dimana tujuannya untuk mempermudah penyimpanan dan pengangkutan.
  2. Pembakaran (incinerate), yaitu teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meskipun teknik termasuk cara yang efektif, tapi bukan teknik yang dianjurkan. Hal ini lantaran teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.
  3. Pembuatan Kompos (Composting). Kompos identik dengan pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak (bila perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti urea). Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, pada proses pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapa pun dan dimana pun.
  4. Energy Recovery, yaitu tranformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di negara-negara maju seperti pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas ± 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik (± 96.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses pengelolaan.

Keenam, pembuangan akhir. Pada prinsipnya, pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang cukup efektif dilakukan dengan open dumping, dimana sampah yang ada hanya ditempatkan di tempat tertentu, hingga kapasitasnya tak lagi memenuhi. Teknik ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Kemudian, teknik yang direkomendasikan yakni sanitary landfill, dimana pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah.

Beberapa bentuk permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem yang terjadi selama ini diklasikasikan menjadi dua. Pertama, dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke TPA, sampah belum dipilah sehingga kalaupun diterapkan teknologi lanjutan baik komposting maupun daur ulang, perlu tenaga untuk pemilihan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Hal ini juga memerlukan dana maupun menyita waktu. Kedua, pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, antara lain:

  1. Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya cocok bagi kota yang masih punya banyak lahan yang tak terpakai. Bila jumlah penduduk kota menjadi semakin bertambah, sampah akan jadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini berimplikasi pada semakin bertambahnya luasan lahan bagi TPA.
  2. Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain juga dapat menimbulkan bau tak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter yang pada akhirnya dapat mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan. (Sjn/Humaspro19)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *